Beranda | Artikel
Tiga Perkara yang Membinasakan
8 jam lalu

Tiga Perkara yang Membinasakan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 11 Rabiul Akhir 1448 H / 22 September 2026 M.

Kajian Hadtis Tentang Tiga Perkara yang Membinasakan

أَمَّا الْمُهْلِكَاتُ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Adapun perkara-perkara yang membinasakan adalah sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabrani)

Para ulama menjelaskan bahwa syuh berarti keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu, disertai usaha keras untuk mencari, memperoleh, dan mendapatkannya. Dengan demikian, syuh adalah ketamakan yang berlebihan terhadap sesuatu.

Hadits ini memberikan banyak pelajaran. Di antara amal perbuatan manusia terdapat amalan yang menyebabkan keselamatan dari adzab Allah dan ada pula yang menyebabkan kecelakaan serta kebinasaan.

Salah satu perkara yang membinasakan seseorang adalah ketamakan yang diikuti dengan usaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sifat tamak terhadap sesuatu termasuk salah satu sifat yang paling buruk karena dapat bertentangan dengan keimanan.

Seseorang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla meyakini bahwa rezeki yang Allah berikan kepadanya tidak akan berpindah kepada orang lain. Karena itu, ia tidak semestinya memiliki sifat tamak. Ketamakan yang berlebihan bertentangan dengan iman seseorang.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Tidak akan bertemu debu yang beterbangan dalam peperangan di jalan Allah dan asap api neraka.” (HR. Bukhari)

Hal ini menunjukkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dari azab api neraka.

Iman dan Ketamakan Tidak Berkumpul dalam Hati

Sifat tamak dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba. Orang beriman meyakini bahwa Allah memberikan rezeki dan menetapkan segala sesuatu bagi dirinya. Karena itu, ia bersyukur atas apa yang Allah berikan dan tidak tamak terhadap sesuatu yang belum diperolehnya. Ia meyakini bahwa jika sesuatu itu memang menjadi miliknya, Allah akan memberikannya dengan cara yang telah ditetapkan-Nya.

Keinginan memperoleh sesuatu dengan ketamakan hingga menerjang hal-hal yang haram bertentangan dengan iman. Hadits ini juga memperingatkan bahaya sifat asy-syuh, yaitu ketamakan yang luar biasa. Sifat tersebut dapat menyebabkan kedzaliman, korupsi, dan upaya mencari harta dengan cara yang tidak halal.

Bahaya Sifat Asy-Syuh

Asy-syuh merupakan sifat tercela yang dapat menyebabkan kedzaliman, memutus silaturahim, menumpahkan darah, dan memakan harta dengan cara yang tidak halal. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak memiliki sifat buruk tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

“Jauhilah oleh kalian kedzaliman, karena kedzaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah oleh kalian sifat kikir/tamak, karena sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian; (sifat itu) mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Muslim)

Ketamakan menyebabkan seseorang memutus silaturahim, bersikap pelit, dan melakukan perbuatan buruk.

Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu

Hal lain yang membinasakan manusia adalah hawa nafsu yang diikuti. Mengikuti hawa nafsu menyebabkan seseorang meninggalkan kebenaran dan menyimpang dari sunnah serta ajaran Allah dan Rasul-Nya.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Jika mereka tidak menjawab panggilanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.” (QS. Al-Qasas [28]: 50)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk akan menyimpang dari kebenaran.

Larangan Mengagumi Diri Sendiri

Pelajaran berikutnya dari hadits ini adalah larangan mengagumi diri sendiri atau ujub. Ketika berhasil dalam pekerjaan, usaha, atau menuntut ilmu, seseorang tidak boleh merasa kagum terhadap dirinya.

Ujub melalaikan seseorang dari sumber nikmat yang diterimanya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang ujub mengandalkan dan memuji dirinya sendiri. Karena itu, ujub termasuk sifat yang membinasakan.

Qarun dan Kesombongan atas Kekayaan

Kisah Qarun menjadi salah satu gambaran tentang hal ini. Qarun berasal dari kaum Nabi Musa, yaitu Bani Israil. Allah Ta’ala memberinya banyak harta dan rezeki.

Qarun menyombongkan diri dan berkata bahwa harta yang dimilikinya diperoleh karena ilmu dan usahanya. Ia lupa bahwa seluruh kekayaan itu berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي…

“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku mendapatkan harta ini karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qasas [28]: 78)

Qarun melupakan Allah ‘Azza wa Jalla yang memberikan rezeki dan harta kepadanya. Akhirnya, Allah Ta’ala membinasakannya.

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ

“Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qasas [28]: 81)

Kisah ini menunjukkan bahwa mengagumi diri sendiri atas keberhasilan yang dimiliki dapat membinasakan seseorang.

Mutarrif bin Abdullah bin Asy-Syikhkhir berkata, “Aku tidur pada malam hari dan pada pagi harinya menyesal karena tidak melaksanakan shalat malam. Hal itu lebih aku sukai daripada aku melaksanakan shalat malam, tetapi pada pagi harinya kagum terhadap diriku sendiri.”

Perkataan ini menunjukkan kekhawatiran para salaf terhadap sifat mengagumi diri sendiri. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Demi Allah, tidak akan beruntung orang yang menyucikan dan mengagumi dirinya sendiri.”

Seorang mukmin beribadah kepada Allah Ta’ala karena menyadari kedudukannya sebagai hamba. Hal ini berbeda dari orang yang niatnya tidak benar dan kagum terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian tentang “Tiga Perkara yang Membinasakan” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56555-tiga-perkara-yang-membinasakan/